Minggu, 07 November 2010

HADIST-HADIST TENTANG KUBURAN, MAHSYAR, HISAB (Kajian Tematik Analitik)

A. PENDAHULUAN

Dalam kehidupan manusia terdapat sirkulasi atau fase-fase yang harus dilewati oleh setiap jiwa atau roh manusia, sebagaimana hal tersebut sering dicantumkan dalam al-quran dan hadist, dan fase-fase tersebut dijelaskan oleh al-quran dan hadist dengan jumlah empat fase atau empat persinggahan, dan setiap persinggahan yang satu pasti lebih besar dari sebelumnya dan persinggahan tersebut merupakan fase-fase yang harus ditempuh dalam kehidupan roh atau jiwa manusia.
Adapun fase-fase yang dilalui oleh setiap jiwa atau roh manusia ada empat itu antara lain kehidupan di :
1. Alam kandungan
2. Alam dunia
3. Alam kubur(barzakh)
4. Alam akhirat
Alam kandungan adalah alam dimana jiwa dan roh kita masih berada dalam kandungan bunda pada waktu itulah dimulainya proses kejadian manusia yaitu allah menciptakan manusia dari saripati tanah yang diubah bentuknya menjadi air mani yang disimpan dalam rahim ibu sehingga terciptanya manusia.
Setelah manusia telah mengalami kehidupan di fase pertama, maka tibalah pada fase alam dunia yaitu alam setelah keluar dari rahim ibu sebagaimana allah berfirman dalam surat an-nahl ayat 78:
    •            
“dan allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan dia member kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”
Adapun alam kubur dan alam akhirat adalah kehidupan setelah hidup di alam dunia, seorang manusia akan merasakan keluasan alam kubur tergantung dengan amal perbuatan di dunia, dan alam kubur bersifat sementara. sedangkan alam akhirat adalah alam yang terakhir yang harus ditempuh manusia dan menjadi tempat persinggahan abadi. Oleh sebab itu keadaan manusia di dunia sangat mempengaruhi keadaan mereka di alam akhirat kelak.
Sebelum memasuki alam akhirat terdapat masa peralihan antara alam akhirat dengan alam kubur (barzakh) yaitu waktu dimana manusia di kumpulkan di tempat yang bernama padang mahsyar dalam keadaan yang bermacam-macam, bagi orang yang berimana maka akan dibangkitka dengan rupa yang bagus akan tetapi sebaliknnya sebagaimana dicantumkan dalam firman allah
Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".
Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam Keadaan buta, Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"


B. PEMBAHASAN

1. Hadist tentang Kuburan
Hadist Nabi yang berkaitan dengan kubur sangatlah banyak, dari kondisi kuburan serta keadaan manusia di alam kubur bahkan pertanyaan Malaikat di alam kubur, oleh sebab itu penulis membatasi pembahasan makalah ini dengan membahas keadaan manusia di alam kubur yang mana konsepnya berasal dari hadist Nabi
a. Hadist tentang keadaan manusia di Alam Kubur
َدَّثَنَا عَيَّاشٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ قَالَ وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْن
Terjemahan
Dari ayyas dari abdul a’la dari sa’id berkata dia berkata khalifah berkata kepadaku dari yazid bin zurai’ dari said dari qatadah dari anas dari nabi SAW. Berkata sesungguhnya hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan teman sejawatnya pulang, sedang ia masih mendengar suara sepatu mereka, datanglah kepadanya dua malaikat, lalu mendudukannya, keduanya bertanya, “ apa yang yang engkau katakana terhadap lak-laki ini yakni Muhammad s.a.w.?” orang mukmin menjawab, “ saya bersaksi bahwa ia adalah hamba allah dan utusan-Nya.” Maka kepadanya dikatakan, “ lihatlah tempatmu di neraka telah diganti oleh tuhan denga tempatmu di surga. Lalu ia melihat kedua tempat itu sekaligus. Orang-orang munafik dan kafir ketika ditanyakan, “ apa yang kau katakana terhadap laki-laki ini?” mereka menjawab “ aku tak tahu, aku hanya mengatakan sebagaimana orang lain mengatakan” lalu orang itu dipukul dengan besi sehingga ia berteriak-teriak yang suaranya terdengar oleh makhluk yang berada di sekelilingnya selain jin dan manusia.

b. Takhrij Hadist

Hadist di atas adalah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang di kodifikasikan oleh Imam Bukhori dan ditemukan pada shohehnya Imam Bukhori dan berjumlah dua hadist yang similar yaitu terdapat pada bab Jana’iz yaitu pada hadist nomor 1252 dan 1285.
Adapun dalam shoheh Muslim ditemukan satu hadist yang semakna, dan juga dalam sunan nasa’I terdapat dua hadist yang semakna begitu juga dalam musnadnya imam ahmad terdapat satu hadist namun terdapat variasi matan yang berbeda.
Shahih Bukhari no. 1285(Hadis ini berkualitas shahih)
حَدَّثَنَا عَيَّاشُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا قَالَ قَتَادَةُ وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى حَدِيثِ أَنَسٍ قَالَ وَأَمَّا الْمُنَافِقُ وَالْكَافِرُ فَيُقَالُ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ
shahih muslim no. 5115 (hadist ini berkualitas shahih)
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ قَالَ يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ قَالَ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا قَالَ قَتَادَةُ وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا وَيُمْلَأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Sunan nasa’I no 2023 (hadist ini berkualitas shahih)
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَقَ قَالَا حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ شَيْبَانَ عَنْ قَتَادَةَ أَنْبَأَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ قَالَ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا
Musnad imam ahmad no1182 (hadist ini berkualitas shahih)
حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَيُونُسُ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ فَقَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا فِي الْجَنَّةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا قَالَ رَوْحٌ فِي حَدِيثِهِ قَالَ قَتَادَةُ فَذَكَرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا وَيُمْلَأُ عَلَيْهِ خُضْرًا إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيُقَالُ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَهُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً فَيَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ يَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ أَضْلَاعُهُ
c. Analisis Matan

Jika kita memperhatikan hadist-hadist di atas, maka akan menimbulkan beberapa pertanyaan mengenai keadaan manusia di alam kubur, dikarenakan hadist di atas menjelaskan istilah-istilah yang tidak dijelaskan dalam al-quran
Pertanyaan yang menghendaki penyelesaian antara lain:
• Benarkah orang yang telah mati itu masih punya kesadaran?
Dalam hadist di atas Mereka dikatakan masih merasa, mendengar, melihat dan lain-lain dapatkah penglihatan. Perasaan mereka disamakan dengan orang yang masih hidup, dalam hadist di atas bahwasanya manusia yang barusaja di kubur mendengarkan suara sandal.
• Benarkah orang yang mati dapat duduk dalam kubur?
Dalam hadist diatas dijelaskan bahwasanya setelah mendengar suara sepatu yang berasal dari teman sejawat mayit, maka datanglah malaikat kemudian mendudukannya, sehingga seakan-akan yang didudukkan adalah jasad mereka padahal ruangan didalam kuburan tidak memungkinkan seseorang untuk melakukan posisi duduk.
• Benarkah orang yang telah mati di dalam kubur hidup kembali?
Hal ini kita hubungkan dengan keadaan mayat yang dikatakan dalam hadist tadi sebagai berkata-kata, mendengar, melihat, bergerak dan berfikir di dalam kubur keadaan demikian yang digambarkan dalam hadist tentu sama dengan keadaan orang yang masih hidup.

d. Analisis Sanad

sanad yang terdapat pada hadist memiliki beberapa variasi sanad, namun dalam thabaqat ula hanya terdapat satu perawi yaitu Anas bin Malik,dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasa’i, Musnad Imam Ahmad secara jelas Anas bin Malik menerima secara langsung dari Rasulullah, karena dalam meriwayatkan Anas bin Malik menggunakan lafadz حدثى,قال sehingga hadist ini merupakan hadis Marfu’
identifikasi perawi pertama
• Anas bin Malik
nama lengkap : Anas bin Malik bin Nadzri bin Dhamdham bin Zaid bin Hiram
thabaqat : Shahabat
kunyah : Abu Hamzah
kota kelahiran : Bashrah
wafat : 91 Hijriyah
al-jahr wa ta’dil : Tsiqah Hafidz

2. Hadist tentang Mahsyar

a. Hadist yang berkaitan denga keadaan manusia di Padang Mahsyar
و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ حَاتِمِ بْنِ أَبِي صَغِيرَةَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حَاتِمِ بْنِ أَبِي صَغِيرَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرْ فِي حَدِيثِهِ غُرْلًا
Tarjamah
Diceritakan dari zuhair bin harbi dari yahya bin said dari hatim bin abi shogirah dari ibnu abi mulikah dari qasim bin Muhammad Diriwayatkan dari aisyah dia berkata: “ saya pernah mendengar rasulullah berkata:” pada hari kiamat para manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar tanpa alas kaki, dengan telanjang dan tidak berkhitan. “ saya bertanya. “ ya rasulallah, laki-laki dan perempuan dan saling melihat seperti itu. Rasulullah menjawab:” hai aisyah kesulitan mereka jauh melebihi keinginan meraka untuk melihat.”

b. Takhrij Hadist

Hadist di atas adalah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah yang di kodifikasikan oleh Imam Muslim yang ditemukan pada shahihnya Imam Muslim berjumlah satu hadist.
Adapun dalam shoheh Imam Bukhari ditemukan satu hadist yang semakna, dan juga dalam Sunan Nasa’i terdapat dua hadist yang semakna begitu juga dalam musnadnya Imam Ahmad terdapat satu hadist dan juga pada sunannya Ibnu Majjah namun terdapat variasi matan yang berbeda
Berikut rinciannya
Shahih Bukhori no : 6046
حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ أَبِي صَغِيرَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
Sunan nasa’I no: 2056
أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ أَخْبَرَنِي الزُّبَيْدِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي الزُّهْرِيُّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُبْعَثُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَكَيْفَ بِالْعَوْرَاتِ قَالَ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
Sunan ibnu majjah no: 4266
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حَاتِمِ بْنِ أَبِي صَغِيرَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْقَاسِمِ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ حُفَاةً عُرَاةً قُلْتُ وَالنِّسَاءُ قَالَ وَالنِّسَاءُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا يُسْتَحْيَا قَالَ يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَهَمُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ
Musnad ahmad no: 23131
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ حَاتِمٍ يَعْنِي ابْنَ أَبِي صَغِيرَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ أَنَّ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَهُ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ تُحْشَرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ الْأَمْرَ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَلِكَ حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ أَبِي صَغِيرَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ
c. Analisis matan

Dari hadist diatas dijelaskan bahwasanya keadaan manusia ketika dihidupkan kembali dari alam kubur sangat mengerikan bahkan tiada hasrat atau keinginan sedikitpun dalam melihat kaum lawan jenis yang dijelaskan dalam hadist bahwa mereka dikeluarkan dalam keadaan telanjang. Sampai dalam riwayat lain menyebutkan bahwa aisyah menangis ketika mendengar jawaban dari rasul tentang kadaan semua manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang dikarenakan rasa malu aisyah yang besar, akan tetapi dijelaskan juga bahwa, mereka semua tidak akan memikirkan hal tersebut karena mereka disibukkan dengan urusan mereka masing-masing, sebagaimana yang digambarkan dalam al-quran surat ‘abasa ayat 37
      
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Dalam fathul bari dijelaskan bahwasanya manusia dikumpulkan berdasarkan golongan masing-masing golongan orang-orang muslim yang taat, sampai golongan kafir yang jahat dan mereka akan mendapatka keadaan dari apa yang mereka lakukan di alam dunia.
d. Analisis sanad

sanad yang terdapat pada hadist tersebut memiliki beberapa variasi sanad, bahkan dalam setiap setiap hadist yang dikodifikasikan dalam kutubut sittah namun dalam thabaqat ula hanya terdapat satu perawi yaitu aisyah binti abi bakar as-shidiq, dalam shahih bukhari, shahih muslim, sunan nasa’I, musnad imam ahmad dan sunan ibnu majjah secara jelas menerangkan bahwa Aisyah mendengar langsung dari Rasulullah bahkan terjadi dialog antara Aisyah dengan Rasulullah dengan dasar bahwa redaksi tahmilul hadist yang diriwayatkan Aisyah berupa lafadz سمعت setelah itu dilanjutkan dengan ucapan Aisyah قالت sehingga konsekuensi logisnya hadist ini bersandar kepada Rasulullah dan perawi pertamanya dari shahabat, sehingga hadist ini merupakan hadis Marfu’
identifikasi perawi pertama
• Aisyah binti Abi Bakar As-Shidiq
Nama lengkap : Aisyah binti Abi Bakar As-Shidiq
Thabaqat : shahabat
Kunyah : Ummu Abdillah
Laqab : Ummu Mu’minin
Kelahiran : Madinah
Kota wafat : Madinah
Tanggal wafat : 58 H
Jahr wa ta’dil : Tsiqah Hafidz

3. Hadist tentang Hisab

Hadist Nabi yang berkaitan dengan hari hisab sangat banyak dikarenakan banyak hadist yang menerangkan setiap sifat dari yaumul hisab contohnya menerangkan kesaksian bumi bagi manusia sehingga Penulis membatasi permasalahan terhadap keadaan manusia pada yaumul hisab.
a. Hadist-Hadist yang berkaitan dengan keadaan manusia pada yaumul hisab

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Tarjamah
Diceritakan dari Abdullah bin Abdurrahman dari al-aswad ibnu amir dari abu bakar bin ayas dari a’mas dari said bin abdillah bin juraiz dari abi barjah dari rasulullah berkata:”pada hari kiamat kelah kedua telapak seorang hamba tidak akan bergeser sehingga dia ditanya tentang lima hal, tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya, tentang badannya untuk apa dipekerjakan hingga hari tua”.

b. Takhrij hadist

Hadist di atas adalah hadist yang diriwayatkan oleh abi barzah yang di kodifikasikan oleh imam tirmidzi yang ditemukan pada shahihnya sunan tirmidzi berjumlah satu hadist yang memiliki makna similar. Yaitu pada no 2340.
Adapun dalam kutubus sittah tidak ditemukan hadist yang semakna dengan yang dikodifikasikan oleh imam tirmidzi sehingga hadist ini dinyatakan sebagai hadist ghorib.
Dan juga dijelaskan dalam kitab tuhfatul akhwadzi bi syarhi jamu’it tirmidzi bahwasanya hadist yang no 2340 ini di hukumi dhoif dikarenakan pada sanad Husain bin qayis setelah di takhrij menetapkan bahwa beliau adalah matruk dalam hadist dan secara jelas imam tirmidzi juga mendhoifkan hadist ini akan tetapi pada jalur abi barzah dinyatakan hasan shoheh.
Sunan at-tirmidzi no 2340
حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا حُصَيْنُ بْنُ نُمَيْرٍ أَبُو مِحْصَنٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ قَيْسٍ الرَّحَبِيُّ حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
c. Analisis matan

Hadist diatas menjeleskan bahwasanya manusia tidak akan terlepas dari perhitungan amal perbuatan mereka ketika mereka hidup didunia dan pertanggung jawaban mereka terhadap amal perbuatan meraka di jelaskan dalam hadist di atas dengan pertanyaan yang akan diajukan pada hari hisab kelak.
• Untuk apa mereka habiskan umur mereka, apakah dengan hanya bersenang-senang ataukah dengan beribadah kepada tuhan
• Untuk apa mereka habiskan masa muda mereka, dalam syarah imam tirmidzi dijelaskan bahwa dalam keadaan kuat yang disimbolkan dengan anak muda.
• Dari mana mereka memperoleh harta mereka, apakah dari hal-hal yang haram ataukah dari hal-hal yang halal?
• Dan apakah mereka telah menjalankan apa yang meraka ketahui, dari hal yang baik yang mereka peroleh dari allah?
tiada satu orangpun yang dapat lolos dari pertanyaan yaumul hisab, bahkan para nabipun memberikan kesaksian atas diri mereka sendiri dan bagi umatnya sebagaimana firman allah dalam surat al-a’raf ayat 6.
      
Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami),

d. Analisis Sanad

sanad yang terdapat pada hadist tersebut hanya memiliki dua jalur sanad, bahkan dalam riwayatnya Ibnu Mas’ud hadist tersebut diangap dhoif karena pada tingkatan Husain bin Qayis para ulama’ muhadistin mengangapnyanya Matruk ,hadist ini hanya dikodifikasikan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya, oleh karena itu hadist tersebut disebut hadist ghorib, namun dari kedua hadist yang dikodifikasikan oleh Imam Tirmidzi terdapat perawi pertama yang berbeda yaitu dari Abi Barzah dan Ibnu Mas’ud
identifikasi perawi pertama
• Nama lengkap :Nadhlah bin Ubaid
Thabaqat : Shahabat
Kunyah : Abi Barzah
Tempat kelahiran : Bashrah
Kota wafat : Hams
Tanggal wafat : 64 H
Jarh wa ta’dil : Tsiqahtus Stiqah
• Nama lengkap : Abdullah bin Mas’ud bin Ghofil bin Habib
Nasab : Hudzli Al-Madani
Thabaqat : Shahabat
Kunyah : Abu Abdurrahman
Laqab : Ibnu Ummul Abd
Tempat kelahiran : Kufah
Kota wafat : Madinah
Tanggal wafat : 32 H
Jarh wa ta’dil : Tsiqah Hafidh

4. Kajian Tematik Analitik

a. Pengertian Kuburan

Suatu peristiwa yang tak dapat dipungkiri lagi oleh manusia adalah kematian. Setelah menjalani kehidupan di dunia, manusia akan meninggal dan memasuki dunia baru yang sama sekali lain dengan dunia yang semula ditinggalinya. Setelah meninggalkan dunia ini, “hidup” manusia masih terbagi pada beberapa fase atau periode: Periode “Menunggu”, dikenal dengan “alam barzakh”; Periode “Peralihan”, atau “kiamat besar”; Periode “Kebangkitan”, atau “mahsyar”; Periode “Pengadilan”, atau “hisab”; Periode Pembalasan, yakni dimasukkannya manusia ke dalam surga atau neraka, berdasarkan amalan-amalan yang diperbuatnya semasa di dunia.
Barzakh umumnya diartikan sebagai dinding, sekat, maksudnya pemisah antara dua alam yang berbeda. Dikatakan juga bahwa yang dimaksud dengan barzakh ialah masa sejak roh seseorang berpisah dari jasadnya sampai hari kebangkitan, sebagaimana tercantum dalam Surat. Al-Mu’minun ayat: 100.
                   
Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan
Para ulama mengartikan alam barzakh sebagai "periode antara kehidupan dunia dan akhirat". Maksudnya, keberadaan di sana memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan di sana bagaikan berada dalam suatu ruangan terpisah yang terbuat dari kaca. Ke depan penghuninya dapat melihat hari kemudian, sedangkan ke belakang mereka melihat kita yang hidup di pentas bumi ini. Barzakh bersifat sementara, yaitu sampai tibanya hari kebangkitan. Karena, setelah datangnya hari tersebut, akan ada kehidupan lain lagi, yaitu kehidupan tahap terakhir, kehidupan di alam akhirat.
Dengan kematian, seseorang beranjak untuk memasuki saat pertama dari hari akhir. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa: “Siapa yang meninggal, maka kiamatnya telah bangkit.” Maka kiamat ini dinamai "kiamat kecil". Saat itu yang bersangkutan dan semua yang meninggal sebelumnya hidup dalam satu alam yang dinamai dengan alam barzakh. Mereka semua menanti kedatangan kiamat besar, yang ditandai dengan peniupan sangkakala pertama.

b. Pengertian Mahsyar

Firman Allah (QS. Az Zumr: 68)
                       
Artinya:” Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”
Sebagaimana yang tertera pada ayat di atas, sesudah terompet pertama dibunyikan, maka terjadilah qiamat besar, di mana pada saat itu bumi, semua manusia, jin, malaikat binasa serentak (kecuali Allah Malaikat Israfil). Bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang pun hancur, lalu diganti dengan bumi, matahari, dan bintang-bintang baru.
Kemudian dibunyikan terompet untuk yang kedua kalinya. Di saat itu dihidupkanlah kembali semua manusia yang pernah hidup di permukaan bumi ini, dihidupkan pula jin, iblis, dan malaikat. Menurut sebagian ulama’ juga dihidupkan kembali beberapa macam binatang dan timbuh-tumbuhan. kehidupan yang kedua inilah yang dinamkan dengan kehidupan akhirat, yakni kehidupan yang benar-benar hidup, kehidupan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih kekal, kehidupan yang tidak akan mati-mati lagi buat selama-lamanya. Setelah itu Allah mengumpulkan manusia pada salah satu area tanah lapang yang dinamakan padang mahsyar, matahari di padang mahsyar sangatlah dekat dengan kepala mereka. Bukan main takut dan sengsaranya serta berat karena panasnnya. Kemudian menyerulah sang Dzat penyeru :” Wahai sekalian makhluk, pergilah ke naungan”. Maka mereka semua pergi dan mereka menjadi semua tiga kelompok:
Kelompok orang-orang mukmin.
Kelompok orang-orang munafik.
Kelompok orang-orang kafir.
Dan jika para makhluk itu berlindung kepada naungan, maka naungan itu menjadi tiga bagian pula:
1. Bagian untuk cahaya.
2. Bagian untuk panas terik.
3. Bagian untuk asap.
Ini dijelaskan oleh firman Allah yang berbunyi:
      
Artinya:” Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang”.
Makhluk dikumpulkan di padang makhsyar, yakni: bumi yang sifatnya diterangkan oleh Rasulullah dalam hadis berikut:
Daripada Sahl bin Sa`id As-Sa`idiy, Rasulullah bersabda bermaksud: “Tuhan akan himpunkan semua manusia pada hari kiamat di atas satu bumi yang putih kemerah-merahan seperti sebiji roti gandum putih yang baru dibakar, bumi yang suci bersih, tidak ada padanya gunung-ganang atau bukit-bukau dan tidak pula ada padanya sebarang tanda atau kesan yang menunjukkan bahawa bumi itu pernah diduduki atau dimiliki orang.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

c. Pengertian yaumul hisab

Dalam Bahasa Arab Hisab artinya adalah menghitung, artinya yaumul hisab adalah hari dimana seluruh amal perbuatan yang telah dilakukan di dunia baik berupa amal baik maupun amal buruk akan diminta pertanggung jawabannya.
Setelah Allah SWT. Membangkitkan manusia dari alam kubur dengan bentuk yang baru lalu mereka dikumpulkan disisi-Nya akni digiring untuk berkumpul di Padang Mahsyar, tujuannya adalah bahwa semua manusia hendak dihisab yakni di hitung atau ditimbang amal perbuatannya, saat itu. Bumi menjadi saksi akan segala peristiwa yang telah terjadi di atasnya
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwasnya setelah manusia digiring ke suatu tempat dimana akan disebarkan buku catatan amalnya masing-masing, manusia berhenti ditempat tersebut lamanya kira-kira 1.000 tahun ada manusia yang diberi buku dengan tangan kanannya, maka buku tersebut dalam keadaan putih dan ada juga sebaliknya ada yang menerima dengan tanggan kiri dari arah belakang punggungnya. Kemudian datanglah khitab Allah dalam Surat Al-Isra’ ayat 14
       
Artinya :Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu".
Mereka menemukan didalam buku tersebut segala amal perbuatan yang pernah mereka kerjakan.
Menurut al-ghazali, bahwasanya manusia setelah ditanya perihal amal mereka maka allah membagi mereka dalam tiga golongan:
1) Golongan yang tidak ada kebaikan baginya maka golongan tersebut dimasukan kedalam neraka.
2) Golongan yang tidak ada keburuka baginya, maka allah memasukkanya kedalam surge.
3) Golongan yang mencampur amal baik dan amal buruk, maka disinilah timbangan yang akan menentukan nasib mereka.












C. Penutup
1. Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang dimulyakan oleh allah dalam penciptaanya sebagaimana dalam firman allah dalam surat al-Baqarah ayat 34:
             
Artinya :Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Dari keterangan ayat diatas dapat disimpulkan bahwasanya manusia telah mendapatkan kepercayaan yang penuh dari Allah guna menjaga kedamaian di alam dunia dikarenakan manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh malaikat dan jin yaitu akal.
Kehidupan di dunia hanyalah sebuah manifestasi dari partikel terkecil dari kehidupan hakiki manusia yang pada akhirnya bertujuan untuk mendapatkan tempat yang baik di akhirat atas ridho Allah SWT, segala perbuatan yang manusia lakukan di dunia akan mendapatkan pertanggungjawaban di akhirat kelak, yang baik akan mendapatkan tempat yang baik dan yang jelek dalam perbuatanya akan medapatkan tempat yang jelek di akhirat kelak.
Dalam kehidupan didunia kita harus menyadari akan datangnya hari pembalasan atas amal perbuatan kita sehingga konsekuensi logis dari kita menyadarinya adalah rasa syukur kita terhadap tuhan yang senantiasa memberikan nikmat iman yang kita wujudkan dalam kehidupan dengan beramal baik, baik terhadap manusia maupun kepada makhluk yang lain dan terlebih terhadap tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya.
CD-ROM Mausuah al-hadist As-syarif
CD-ROM Maktabah syamilah, global Islamic software
Abidin, Zainal. Alam Kubur dan Seluk-Beluknya. Jakarta: Rineka Cipta. 1993.
Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Makrifah,tt.
Halimuddin. Kehidupan Insan di Alam Baqa. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1993.
Lubis, Dalimi. Alam Barzakh (Alam Kubur). Jakarta: Ghalia Indonesia. 1981.
Shihab, Quraish. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan. 1996.
Majdi Muhammad al Syahwi dan Abdul Husain. Kemana Kita Melangkah. Bandung: Pustaka Madani. 1998.
Marzuki, Choiran. Qiamat Surga dan Neraka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1999.
Husen al-awayishah, the grave punishment and blessings,bairut: dar ibnu hazm, 1997
Kauman, fuad. Langitpun terguncang, Yogyakarta: mitra pustaka, 2000
Al-ghazali, metafisika alam akhirat, Surabaya: risalah gusti, 1996
Radial, pedoman penulisan karya ilmiah, Jakarta: predate kencana, 2009
Sumbulah, ummi. Kritik hadist, pendekatan historis metodologis. Malang: UIN-malang Press, 2008
Arifin, Bey . Hidup Sesudah Mati. Jakarta: CV. Kinta. 1987.
Qayyim, Muhammad Djohan. Berita tentng Kehidupan Akhirat. Jakarta: Srigunting. 1995.

Tidak ada komentar: